Justisi.id || KARAWANG - Teater Aufklarung kembali mengukuhkan eksistensinya sebagai salah satu kelompok teater pelajar terbaik di Kabupaten Karawang. Dalam ajang Festival Teater Pelajar Basa Sunda Karawang 2026, kelompok ini sukses mencuri perhatian lewat pementasan naskah Karunya Si Mamah karya Nunu Nazarudin Azhar dan mengantarkan Yunita Sari (Aboh) meraih penghargaan Sutradara Terbaik.
Penggiat seni dan budaya, Hendra Wijaya, menilai capaian tersebut menjadi bukti kualitas Teater Aufklarung dalam menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya kuat dari sisi artistik, tetapi juga kaya akan pesan kemanusiaan.
"Festival yang menjadi wadah kreativitas sekaligus pelestarian bahasa dan budaya Sunda itu dimanfaatkan dengan baik oleh para pemain untuk menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan melalui seni teater," ujar Hendra, Minggu (26/7/2026).
Di bawah arahan Yunita Sari, Karunya Si Mamah tampil menyentuh hati penonton. Kisah tentang kasih sayang seorang ibu, pengorbanan tanpa batas, serta rapuhnya hubungan keluarga akibat pudarnya komunikasi disajikan dengan ritme pementasan yang emosional dan terukur.
Menurut Hendra, Aboh berhasil mengolah naskah yang telah lama dikenal dalam Festival Drama Basa Sunda menjadi pertunjukan yang terasa segar tanpa menghilangkan nilai dan ruh cerita aslinya.
"Penataan panggung yang sederhana namun efektif justru mampu mengarahkan fokus penonton pada konflik antar tokoh serta kekuatan dialog berbahasa Sunda," tandas Hendra.
Penampilan para pemain juga kata Hendra, menjadi salah satu kekuatan utama pementasan. Nazwa Alfia Nada Putri yang memerankan Gustini berhasil menampilkan perkembangan emosi tokoh secara meyakinkan. Sementara Salsal Aulia Salsabila sebagai Kania tampil natural membangun dinamika keluarga, dan Herlina Alfitri Khaylani yang memerankan Balon mampu menghadirkan karakter yang hidup tanpa kesan berlebihan.
"Di sisi lain, Arizqi Putra Utama sebagai Pak Jana sukses menggambarkan sosok ayah yang diliputi pergulatan batin. Andre Hardiyanto yang memerankan Karno tampil konsisten dari awal hingga akhir pementasan, sedangkan Muhammad Tegar Pratama sebagai Cecep melengkapi jalinan dramatik dengan energi yang kuat," tuturnya.
Dari aspek artistik, komposisi blocking, tata cahaya, tata suara, hingga perpindahan adegan berpadu harmonis membangun atmosfer emosional yang mendukung alur cerita.
Menariknya, lanjut Hendra, penggunaan properti panggung yang minim justru menjadi kekuatan tersendiri karena memberikan ruang lebih luas bagi kualitas akting para pemain untuk menjadi pusat perhatian.
"Keberhasilan meraih penghargaan Sutradara Terbaik menjadi pencapaian penting bagi Yunita Sari sekaligus menegaskan bahwa Teater Aufklarung mampu menghadirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengangkat nilai budaya Sunda dan pesan kemanusiaan yang relevan bagi generasi muda," pungkasnya.(**)
(Rls).

.jpg)

