Justisi.id || Karawang _ Ketika Masyarakat bawah di anjurkan Efesiensi, semua kalangan mulai dari sekolahan dan Desa harus menjalankan Efisiensi kebijakan dari pusat,tapi sayang seribu sayang Efisiensi hanya berlaku untuk kalangan Masyarakat bawah saja, tidak berlaku bagi para penguasa hal ini terjadi secara kasat mata.
Kabupaten Karawang menjadi salah satu kota yang terpilih untuk menggelar Kirab Mahkota Binokasih yang dikemas dengan penampilan kesenian dan budaya dari 27 kota/kabupaten se-Jawa Barat di Kota.
Persiapan matang pun sudah dilakukan Pemkab Karawang untuk menggelar Kirab Mahkota Binokasih mulai dari spanduk, baliho umbul umbul, kain putih yang membentang di sudut sudut kota untuk memeriahkan iring iringan budaya Jawa Barat yang menurut rencana pawai iring iringan Kirab Budaya dimulai dari kawasan Stasiun Karawang dan finish di Masjid Agung Syech Quro Alun Alun Karawang.
Namun banyaknya janur kuning yang terpasang di sepanjang jalan Tuparev dan di sudut sudut kota menjadi sorotan publik, salah satunya dari praktisi hukum dan aktivis Karawang, H. Elyasa Budianto, SH.MH.
Menurut Elyasa, banyak janur kuning yang terpasang di sepanjang jalur yang akan dilalui Kirab Mahkota Binokasih menjadi tanda tanya besar masyarakat.
"Janur kelapa kuning itu kan identik dengan pernikahan, disini kami bertanya tanya mengapa kirab budaya dipadukan dengan banyaknya janur kuning, kami menduga jangan jangan kirab budaya ini sekaligus perayaan ulangtahun pernikahan Dedi Mulyadi. Apa untungnya bagi Masyarakat Karawang dengan adanya perayaan dan kirab ini, pertanyaan ini harus di jawab Pemkab Karawang dan panitia pelaksana Kirab Mahkota Binokasih," ucapnya, Sabtu (9/5/2026)
Sebagai informasi, kirab budaya berlangsung dengan iring-iringan seni dan budaya Sunda yang menampilkan pakaian adat, tabuhan kendang, alunan angklung, serta berbagai pertunjukan tradisional yang dapat dipastikan akan mengundang antusias oleh masyarakat untuk menyaksikan di sepanjang jalur kirab.
( Tir)

.jpg)

